Apa maumu ?


marahKau kira telah tawar hatiku ?
Kau sangka bahwa pudar hatiku ?
Juga kau menerka jika hilang sudah rasaku ?

Ah, harusnya bisa terbaca maksud
Agar mengerti kehendak ingin kubangun istana untukmu
Tapi, salah kau artikan sikap
Ahirnya putus harap

Dan terserah !
Itu yang akhirnya sering sengaja terucap
Celetukmu berulang kesal,
Cetusmu kecut menuntut Tuhan
Bahkan kau salahkan !

Jika cita kau tabur untuk bunga kau damba
Mengapa justru mematah ranting sebelum sempat tercium wewanginya

Lantas apa yang sungguh kau mau ?
Jika sudah seperti ini …

Jepara, 02 Februari 2012

Advertisements

Apa sih..!


apa sih

:Ali Zaenal Albar

hmmm…
ku hela nafas, ragu
ku buka pintu yang lama tak ku ketuk
ruang lawas lengkap dengan prabot lapuk
wewangian menyan romantisme yang masih tersuak

satu-dua kali langkah ku beranikan diri memasukinya
aura mencekam, smakin mencekik dengan bayang-bayang slaksa masa lalu

hmmm…
ku hela nafas panjang…
ku pejamkan mata.
sisihkan tembok besar idealisme
sejenak beri kesempatan harmoni hati bersenandung
mungkin ini akan lebih bersahabat

hmh…
ku hela nafas lagi, panjang…
ku buka mata.
PERLAHAN …
LIHATLAH…!
ruangan ini nampak lebih indah, teramat indah malah
sembarang tempat mawar putih menghias indah,
semakin indah dengan sejuta klopaknya yang menyambut lembut setapak peragu ini

hmmm…
ku hela nafas lagi, panjang, kali ini lebih panjang…
panjangggggggg banget…
betapa indah dan kagetnya aku.. WHOUUUU!!
ups…
“sejak kapan ranjang di ruangan ini bertambah lebar”
ini ranjang cukup, bahkan memang teruntuk 2 orang yang damai

huh…
kali ini ku biarkan jiwaku melayang entah kemana
ragu, kaget, shok, takut, risau, malu,
ENTAHLAH…
RANJANG ITU BENAR2 MENGAHANTUIKU

HEY…!
lihatlah selaksa paras anggunnya baru-baru ini seolah berpendar..
terang, terang banget, amat-teramat terang malah…
sdikit terangi senyum ini
tapi itu lebih dari cukup untuk tenggelamkan segala keindahan

HYAH…
setapak indah menuju persada damai
sedamai perangainya
KOMPLIT dengan kopi dari surga

Jepara, 18 Januari 2012

Bidadari – bidadariku


bidadari bidadari ku

:Ali Zaenal Albar

Bidadari-bidadari hari ini tertaut pandangannya pada danau kebebasan dan persamaan. hal baru seru mereka. dari kahyangn kemuliaan, biasan kilau danau menyilalukan mata mereka. entah hanya fatamorgana entah realita. tanpa izin rasio, mereka mencoba membuktikanny dengan turun langsung ke bumi.

berkas cahaya warna-warni padu-pelangi mengiringi segenap kepakan selendang kemuliaan mereka. sesampainya di danau itu, ada syarat yang harus mereka iyakan. jiika ingin menikmati segarnya mandi di telaga kebebsan itu. TANGGALKAN SELANDANG-SELENDANG PENGANTAR\KENDARAAN MEUJU KEMULIAAN KAHYANGAN. demi kilau kebebasan, tak pelak mereka pun rela melucutinya, tentunya tanpa melalui celah filter logika.

entah siapa yang membuat undang-undang seperti itu. Alamkah, atau ideologi jejeka TARUB, yang terlumuri nafsu birahi?, entahlah…

Yang pasti. hari ini tidak hanya satu dari tujuh bidadari yang tereksploitasi kepolosan dan kelembutannya dengan seribu-satu buaian kata cinta serta janji palsu TETARUB, selendang pengantar kemuliaan nun purna, tergadaikan oleh jejaka tak bermoral.
dan kini tujuh-tujuhnya pun terbuai sekaligus terkoyak dan tertikam kenistaan nun hina oleh kilau danau ideologi, imajiner, buatan segelintir insan bermoral tarub. insan?, lebih tepatnya, mereka yang mulai meninggalkan keinsanannya.

hi, bidadari-bidadariku…!

rebutlah kembali selendang-selndang hijab pengantar kemuliaan, dari tangan-tangan jejaka-jejaka bermoral tarub.
sebaliknya. terbuailah kalian dengan kilau-indah gaun suci FATIMAH, seraya mencoba tuk mengenakannya. jangan terbuaidengan laafadz-lafadz cinta tanpa ruh, dari mulut-retorik mereka.

kemaren, sekarang dan kelak Bunda ZAHRA denga sabar akan menunggu putri-putrinya tuk masuk surga kahyangan bersama beliau, seraya terus-menerus di temani kecemasan mendalam akan hadirnya kalian, bidadari-bidadari yang lupa diri. kegelisahan Bunda ZAHRA begitu jelas dengan peraduannya kepada ayah(pangeran dari arab untuk semesta, MUHAMMAD), suami(pujangga, sekaligus filosof sepanjang masa, ALI), serta kedua pangeran muda surga beliau(pangeran yang terampas singgah-sananya, HASAN, dan pangeran yang terabaikan dan terbunuh, HUSAIN), tuk mencari dan menjemput kalian, yang tersesat di belantara kebebasan ini, bahkan, sekalipun kalian mulai tergelincir dalam belukar-berapi nun menakutkan.

 

Jepara, 19 Mei 2010

Ku pahat wajah Tuhan


memahat wajah tuhan

:Ali Zaenal Albar

 

Di belakang rumah kayu beratapkan welit, seorang pemahat dudk termangu demi melihat sebatang kayu yang akan di garapnya. pemahat mulai memikirkan pola apa yang akan di garapnya.

sesaat pemahat memandangi langit yang begitu indah, “karya yang begitu indah” suara hati meneduhkan jiwanya.
“MAHAKARYA, ya aku ingin membuat relif agung, dan objeknya harus AGUNG…!!” antusiasme yang tingggi mendorongnya lekas-lekas menyiapkan 35 varian pahat, beserta palu kayu tu’ memukulnya.
kini pemahat menaruh bongkahan kayu di atas meja kerjanya. dalam angannya ia meminta izin pada objeknya. “gusti… ku ingin memahat WAJAHMU, betapa indah, dan cerahnya langit yang kau bentangkan, dan betapa indahnya kebun-kebun yang kau hamparkan. dan itu menunjukkan betapa MAHA INDAHNYA yang menciptakan ini semua. YA. GUSTI… ku ingin memahat wajahMU”

pemahat hanya mempunyai sedikit pola gambaran tentang wajah tuhan.
“tuhan tidaklah sama dengan ciptaanNYA” setidaknya itu yang pernah ia dengar dari guru spiritualnya.
pemahatpun memulai pekerjaannya dengan menggarap bagian atas terlebih dahulu. Ya. tentunya itu bagian rambut tuhan “model rambut yang seperti apa ya? yang sama sekali berbeda dengan model rambut makhluknya?”
sejenak pemahat mencari-cari gambaran, hingga akhirnya melanjutkan garapan ke bagian jidat tuhan. pertanyaan serupa pun mulai menggelyuti benaknya. dan “selebar apa jidat TUHAN?” mengakhiri pertanyaan tentang pola jidat tuhan. kali ini pemahat memerlukan waktu yang cukup lama sebelum akhirnya ia melanjutka ke bagian matanya.
Siti… YA… pemahat teringat betapa indah mata Sitii… “duh gusti alisnya bak bulan sbit, kedua bola matanya memancarkan cahaya, dan tatapannya gusti… bak pisau yang siap menyayat hati setiap pemuda.” pemahat malah tenggelam dalam keindahan mata Siti.
dengan sigap pemahat melanjutkan garapannya. kali ini pemahat meluangkan banyak waktu untuk menggarapnya, karena “memahat mata Siti aja aku dah kesulitan” batinnya.
hingga akhirnya pemahat merampungkan garapannya, setelah susah payah ia tenggelam dalam bayang-bayang bibir dan dagu si Siti lagi, dan beberapa orang lain yang ikut serta dalam audisi mencari pola bibir dan dagu tuhan.

pemahat meletakkan pahat dan palu kayu di sebelahnya. sambil memijat leher dan bahunya sendiri pemahat melihat hasil akhir garapannya. dan “selesa sudah garapanku” pemahat tersenyum.
ya tersenyum. yang entah dalam artian apa senyumannya itu, puaskah? atau malah tersenyum getir demi melihat WAJAH TUHANnya.
kau perhatikan seja hasil garapannya!!! dan lihatlah………..

“BONGKAHAN KAYU ITU TA’ TERGORES PAHAT SEDIKITPUN”

 

Jepara, 29 September 2010

The True Love


tentang cinta

:Ali Zaenal Albar

Sesa’at, seseorang ketika memandang lawan jenis, jantung terasa berdegup lebih kencang, badan terasa lunglai demi melihatnya, matapun mulai ta’ berdaya memalingkan pandangannya, dan banyak reaksi-reaksi aneh yang akan timbul demi perasaan ini. Itulah gejala yang disinyalir sebagai cinta.
Apakah ini yang namanya cinta, yang konon katanya datangnya pada padangan pertama. Manun ketika seseorang tadi yang terasa begitu aneh setelah melihatnya mulai menjalin tali pengenalan, ta’ jarang orang seperti ini mulai melihat sisi si dia yang ta’ lagi membuat jantung berdegup lebih kencang ataupun badan yang mulai lunglai ta’ kuasa memandang keindahannya, melainkan guratan emosi yang nampak pada nadinya, senyum bahagiapun tergantikan maknanya. Kini senyum getir yang sering keluar demi melihat lakunya.
Apkah rasa seperti ini yang dinamakan CINTA?
Mungkin itu lebih tepat dinamakan nafsu pada pandangan pertama.

Sungguh jika cinta seperti ini. Niscaya ta’ ada lagi pujangga yang dibuat gila oleh syair cintanya. Lantas cinta yang seperti apa?

Beberapa orang mulai menyodorkan makna cinta yang lain, mereka mengklaim bahwa merekalah yang telah meraskan cinta. Terkisah dalam benaknya, cintalah yang memautkan dua hati yang ketika terkasih tersakiti, pecintapun merasakannya. Inilah cinta. Katanya. Lantas datang dari mana cinta seperti ini?
Katanya “datang begitu saja”.
Jika di reeway kita akan menyaksikan proses itu dalam gerak lambat. Pada mulanya pecinta tak merasakan apa-apa, tetapi sejalan dengan tutur kata yang terhubung antar keduanya. Rasa anehpun mulai menyelusup di hati pecinta. Gundah, tatkala terkasih mulai tidak menampakkan cahaya lakunya. Gelisah, ketika terkasih hilang dari pandangannya. Dan akan banyak lagi perasaan-perasaan aneh yang berdatangan senafas dengan hembusan waktu.
Apakah yang demikian juga cinta?
Duh… mungkin rasa itu lebih tepat dinamakan kebiasaan. Ya. Rasa itu akan terajut dengan benang waktu.
Beri sedikit waktu! “Cinta” kan datang karena terbiasa.

Lantas cinta yang seperti apa lagi?

Cinta adalah sebuah format yang jauh sebelum si pecinta merasakannya, rasa itu telah bersemayam di hatinya. Karenanyalah manusia masih terdaftar dalam buku penghuni bumi. Sungguh dalam rasa itu. Sehingga jika seseorang berusaha tuk memenuhinya dengan hal yang kecil niscaya, hanya tetepian yang terjamah olehnya. Di dalamnya lah beberapa pecinta memasukkan terkasih yang takkan pernah memenuhi palung emosi cintanya.
Sesaat, betapapun manusia mencoba menafikan dan mengabaikannya, gelisah dan rasa ada yang kurang, akan menghantui ketenangan jiwa. Dan sebaliknya jika insan barakal mencoba memennuhi hasrat ini dengan hal-hal kecil, niscaya dalam dan luasnya samudra cinta takkan pernah terarungi.
Manusia dengan ragamnya latar dan pola pikir yang melekat pada paradigmanya, kadang meniscayakan berbagai perbedan yang selanjutnya berakibat pada konflik berkepanjangan.
Namun cinta adalah sebuah format yang tak perlu pada perelasian, dan cinta justru berupa intuisi tak memerlukan dalil, dan proses berfikir. Ynag pada akhirnya menuntun manusia dalam kebersamaan menuju pemenuhan hasrat bercinta, pada terCINTA sejati. Yang selanjutnya sabda-sabda terCINTA memantrakan idiologi supaya terrefleksikan dengan loyalitas totalitas total pada terCINTA. Dan dengan itulah pemenuh samudra tak bertepinya cinta, akan menyerukan manusia pada satu tujuan yaitu kedamaian kasih dan cinta.

Jepara, 01 Januari 2010

Tuhan Main Gila


tuhan

:Ali Zaenal Albar

” Tuhan tuh minta di deketin…”
Entah apa yang tersirat dalAm tu kalimat…

Bukannya Tuhan itu dekat? teramat malah! bahkan lebih dekat dari urat nadi kita sendiri…!

Entahlah… tetapi sekarang yang kurasakan, setiap kali ku coba tuk berpaling dan menggantiNYA dengan yang lain, seakan ada wajah TUHAN samar-samar terus membayang. Seakan ingin di perhatikan, meskipun diri ini juga tertarik tuk dekat dengannya, demi melihat belukar-berduri yang terus menghalangi langkah ini….

“Tuhan tuh kaya’ wanita yang berhijab” satu statement yang keluar dari kawan Tuhan.
Anggapan seperti ini benar juga. Sjenak ku berdamai dengannya…
Keberadaannya dengan cadar semakin membuat kita penasaran, dan tertariklah kita tuk berupaya penuh usaha dami kedekatannya, tuk melihat dengan jelas pesona elok wajahnya…, Entahlah…, Kaya’-kaya’nya Tuhan lagi maen petak umpet ma kita…

Dan yang lebih parah… TUHAN masangin susuk di lsetiap lubuk hati insan, tuk dekat dengannya…

Dan aku pun terjebak dalam PERMAINAN GILA TUHAN

 

Jepara, 01 April 2010

Njeporo-Ku


tugu kartini jepara

:Ali Zaenal Albar

beberapa orang boleh tuli, sebagian manusia boleh buta, dan mereka pun, manusia, boleh mati rasa, tapi hati nurani nun suci ribuan kali berlipat ganda kepekaannya dalam menangkap fenomena yang menggetarkan alam ruh…
Ricuh, gaduh, dan bising. Bumi kartini begitu tinggi frekwensi sumbang laku penduduknya, kaum kartini termakan propaganda makna emansipasi. Yang pada mulanya emansipasi hanya bermarkas di sektor pendidikan, kini terpolitisi dengan kebebasan tak bertanggung jawab dunia barat. Kartini yang pada mulanya begitu gigih ingin menyamakan status dalam penuntutan ilmu, seperti yang telah di konsepkan islam dan terproyeksikan dalam pengkaderan Fatimah oleh adi insan, Muhammad. Gulita jahiliyah perangai badui pun sirna dengan munculnya surya penghacur budaya gelap jahiliyah. Dan baru satu setengah abad yang lalu kepekaan dan kegigihan kartini dengan suara lantang memecah keheningan intelektual kaum hawa, beliau berpeluh-kesah demi terwujudnya persamaan gender dalam mengenyam pendidika. Hasilnya wanita indonesia tercerahkan setelh malam panjang kebodohan. Habis gelap terbitlah terang. Sungguh indah mutiara kata beliau, namun tak seindah laku mereka yang setiap tahunnya mengaku memperingati beliau namun tak mengabadikannya dengan menjaga kehormatan intelektual penjaga kesucian kaum hawa…
Ya, mereka malah sibuk mengeksiskan diri bukan dengan intelektual perjuangan kartini, melainkan sensualitas jasad hina nafsu hewani.
Bodoh, pura-pura bodoh, dan acuh. Sekali lagi, kartini bukan berkeluh-payah demi emansipasi yang menjurus ke sisi pengeksploitasia nsensualitas, beliau hanya ingin memuliakan kaumnya dengan intelektual.
Terdengar dan nyata terpampang di bumi ukir kartini, kaumnya berbondong-bondong menanggalkan akal selaras dengan terurainya busana minin pengumbar kehinaan sensualitas. Tak ayal, demi menyadari lingkungan yang begitu sensual, para lelaki hidung-belang tidak jauh-jauh lagi mencari tempat prostitusi, di tanah merah perkampungan pun telah terinjak kaki gemulai wanita “jalang”. Entah dari mana semua itu bermula…?
Bukankah lima abad silam ratu Kencana selaku putri kerajaan bumi ini pernah berkeluh-nanar pada sikap cabul aryo penangsang terhadap wanita bumi pesisir ini…?
Tanpa pengayom beliau linglung tuk berlindung dari penghinaan aryo penangsang dan pengikutnya, beliau lantas terkulai bersila di atas batu granit menanggalkan busan dedaunan dan sutra kemewahan, beriringkan dzikir, beliau haturkan segenap keluh kesahnya tentang penghinaan terhadap kaum hawa bumi ukir ini, kepada pemilik segala urusan.
dikisahkan silih berganti para malaikat menghiburnya. di malam jum’at tepatnya, beliau bertekat menjaga kesucian wanita. satu-dua mengatakan beliau terangkat menjadi bidadari.

entahlah… kaum hawa di bumi ayu jepara kini justru pulas dalam kebodohan dan kenistaan…
SHIMA sang ratu pun mungkin enggah memerintah, jika wanita seperti hewan…

apa salah KARINI….?
apa salah RATU KALINYAMAT, putri sang sunan…?

sehingga perjuangan mereka terasa hampa, tanpa bekas…!

jeparaku, ku iba denganmu…?

Jepara, 10 April 2010