puisi-jalang

Intelektual Dungu


berbicara kelaparan dan ketertidasan
Lalu berdiskusi tentang neo kolonialisme
Bersama – sama brondong kata – kata hujatan
Menolak kapitalisme dalam setiap hirup nafas

Namun tak pernah tersadar tentang laku
Kita belum benar – benar terbebas dan merdeka
Secara ideologi maupun pola pikir
Terus saja otak bekerja sesuai dekte – dekte lama
Yang saat ini kita dengan lantang menentangnya

kaum intelektual yang dungu
Tak ubahnya keledai ataupun kerbau
kaum pintar yang berputar
Membolak balikan kebenaran demi perut yang lapar
Bisakah disebut kaum reportoar
Jika aksi kita selalu tersingkir di trotoar

Kemudian sama – sama bertanya pada toga para sarjana
Yang dengan angku tersenyum diatas sejuta penantian perubahan olehnya
Masikah ia bertengger di atas kepala sarjana yang egois
Sementara ketertidasan dan jerit tangis
Hanya dijadikan esai pada setiap seminar dan dikusi

kaum intelektual sama – sama menelaah
Pengejawantaan Tridarma
Mampukah merubah kemiskinan
Kita bekotemplasi pada ruang bertumpuk teori
Kemudian sama – sam bertanya pada cermin dalam hati
Kaum intelektaual yang bagaimana aku ini…..?

Kita berpasang mata pada setiap birokrat
bahkan berkata anjing pada tindak korupsi
Tapi memilih bungkam saat dijadikan pejabat
Namun berpuas diri ketika di atas kursi
Lalu tawa sadis mengiringi tangisan

27 November 2010 pukul 8:59

Tinggalkan Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s