Njeporo-Ku


tugu kartini jepara

:Ali Zaenal Albar

beberapa orang boleh tuli, sebagian manusia boleh buta, dan mereka pun, manusia, boleh mati rasa, tapi hati nurani nun suci ribuan kali berlipat ganda kepekaannya dalam menangkap fenomena yang menggetarkan alam ruh…
Ricuh, gaduh, dan bising. Bumi kartini begitu tinggi frekwensi sumbang laku penduduknya, kaum kartini termakan propaganda makna emansipasi. Yang pada mulanya emansipasi hanya bermarkas di sektor pendidikan, kini terpolitisi dengan kebebasan tak bertanggung jawab dunia barat. Kartini yang pada mulanya begitu gigih ingin menyamakan status dalam penuntutan ilmu, seperti yang telah di konsepkan islam dan terproyeksikan dalam pengkaderan Fatimah oleh adi insan, Muhammad. Gulita jahiliyah perangai badui pun sirna dengan munculnya surya penghacur budaya gelap jahiliyah. Dan baru satu setengah abad yang lalu kepekaan dan kegigihan kartini dengan suara lantang memecah keheningan intelektual kaum hawa, beliau berpeluh-kesah demi terwujudnya persamaan gender dalam mengenyam pendidika. Hasilnya wanita indonesia tercerahkan setelh malam panjang kebodohan. Habis gelap terbitlah terang. Sungguh indah mutiara kata beliau, namun tak seindah laku mereka yang setiap tahunnya mengaku memperingati beliau namun tak mengabadikannya dengan menjaga kehormatan intelektual penjaga kesucian kaum hawa…
Ya, mereka malah sibuk mengeksiskan diri bukan dengan intelektual perjuangan kartini, melainkan sensualitas jasad hina nafsu hewani.
Bodoh, pura-pura bodoh, dan acuh. Sekali lagi, kartini bukan berkeluh-payah demi emansipasi yang menjurus ke sisi pengeksploitasia nsensualitas, beliau hanya ingin memuliakan kaumnya dengan intelektual.
Terdengar dan nyata terpampang di bumi ukir kartini, kaumnya berbondong-bondong menanggalkan akal selaras dengan terurainya busana minin pengumbar kehinaan sensualitas. Tak ayal, demi menyadari lingkungan yang begitu sensual, para lelaki hidung-belang tidak jauh-jauh lagi mencari tempat prostitusi, di tanah merah perkampungan pun telah terinjak kaki gemulai wanita “jalang”. Entah dari mana semua itu bermula…?
Bukankah lima abad silam ratu Kencana selaku putri kerajaan bumi ini pernah berkeluh-nanar pada sikap cabul aryo penangsang terhadap wanita bumi pesisir ini…?
Tanpa pengayom beliau linglung tuk berlindung dari penghinaan aryo penangsang dan pengikutnya, beliau lantas terkulai bersila di atas batu granit menanggalkan busan dedaunan dan sutra kemewahan, beriringkan dzikir, beliau haturkan segenap keluh kesahnya tentang penghinaan terhadap kaum hawa bumi ukir ini, kepada pemilik segala urusan.
dikisahkan silih berganti para malaikat menghiburnya. di malam jum’at tepatnya, beliau bertekat menjaga kesucian wanita. satu-dua mengatakan beliau terangkat menjadi bidadari.

entahlah… kaum hawa di bumi ayu jepara kini justru pulas dalam kebodohan dan kenistaan…
SHIMA sang ratu pun mungkin enggah memerintah, jika wanita seperti hewan…

apa salah KARINI….?
apa salah RATU KALINYAMAT, putri sang sunan…?

sehingga perjuangan mereka terasa hampa, tanpa bekas…!

jeparaku, ku iba denganmu…?

Jepara, 10 April 2010

Tinggalkan Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s