The True Love


tentang cinta

:Ali Zaenal Albar

Sesa’at, seseorang ketika memandang lawan jenis, jantung terasa berdegup lebih kencang, badan terasa lunglai demi melihatnya, matapun mulai ta’ berdaya memalingkan pandangannya, dan banyak reaksi-reaksi aneh yang akan timbul demi perasaan ini. Itulah gejala yang disinyalir sebagai cinta.
Apakah ini yang namanya cinta, yang konon katanya datangnya pada padangan pertama. Manun ketika seseorang tadi yang terasa begitu aneh setelah melihatnya mulai menjalin tali pengenalan, ta’ jarang orang seperti ini mulai melihat sisi si dia yang ta’ lagi membuat jantung berdegup lebih kencang ataupun badan yang mulai lunglai ta’ kuasa memandang keindahannya, melainkan guratan emosi yang nampak pada nadinya, senyum bahagiapun tergantikan maknanya. Kini senyum getir yang sering keluar demi melihat lakunya.
Apkah rasa seperti ini yang dinamakan CINTA?
Mungkin itu lebih tepat dinamakan nafsu pada pandangan pertama.

Sungguh jika cinta seperti ini. Niscaya ta’ ada lagi pujangga yang dibuat gila oleh syair cintanya. Lantas cinta yang seperti apa?

Beberapa orang mulai menyodorkan makna cinta yang lain, mereka mengklaim bahwa merekalah yang telah meraskan cinta. Terkisah dalam benaknya, cintalah yang memautkan dua hati yang ketika terkasih tersakiti, pecintapun merasakannya. Inilah cinta. Katanya. Lantas datang dari mana cinta seperti ini?
Katanya “datang begitu saja”.
Jika di reeway kita akan menyaksikan proses itu dalam gerak lambat. Pada mulanya pecinta tak merasakan apa-apa, tetapi sejalan dengan tutur kata yang terhubung antar keduanya. Rasa anehpun mulai menyelusup di hati pecinta. Gundah, tatkala terkasih mulai tidak menampakkan cahaya lakunya. Gelisah, ketika terkasih hilang dari pandangannya. Dan akan banyak lagi perasaan-perasaan aneh yang berdatangan senafas dengan hembusan waktu.
Apakah yang demikian juga cinta?
Duh… mungkin rasa itu lebih tepat dinamakan kebiasaan. Ya. Rasa itu akan terajut dengan benang waktu.
Beri sedikit waktu! “Cinta” kan datang karena terbiasa.

Lantas cinta yang seperti apa lagi?

Cinta adalah sebuah format yang jauh sebelum si pecinta merasakannya, rasa itu telah bersemayam di hatinya. Karenanyalah manusia masih terdaftar dalam buku penghuni bumi. Sungguh dalam rasa itu. Sehingga jika seseorang berusaha tuk memenuhinya dengan hal yang kecil niscaya, hanya tetepian yang terjamah olehnya. Di dalamnya lah beberapa pecinta memasukkan terkasih yang takkan pernah memenuhi palung emosi cintanya.
Sesaat, betapapun manusia mencoba menafikan dan mengabaikannya, gelisah dan rasa ada yang kurang, akan menghantui ketenangan jiwa. Dan sebaliknya jika insan barakal mencoba memennuhi hasrat ini dengan hal-hal kecil, niscaya dalam dan luasnya samudra cinta takkan pernah terarungi.
Manusia dengan ragamnya latar dan pola pikir yang melekat pada paradigmanya, kadang meniscayakan berbagai perbedan yang selanjutnya berakibat pada konflik berkepanjangan.
Namun cinta adalah sebuah format yang tak perlu pada perelasian, dan cinta justru berupa intuisi tak memerlukan dalil, dan proses berfikir. Ynag pada akhirnya menuntun manusia dalam kebersamaan menuju pemenuhan hasrat bercinta, pada terCINTA sejati. Yang selanjutnya sabda-sabda terCINTA memantrakan idiologi supaya terrefleksikan dengan loyalitas totalitas total pada terCINTA. Dan dengan itulah pemenuh samudra tak bertepinya cinta, akan menyerukan manusia pada satu tujuan yaitu kedamaian kasih dan cinta.

Jepara, 01 Januari 2010

Tinggalkan Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s