tetntang bidadari

Bagaimana Dengan Bidadari


Hak cipta tulisan ini ada pada alamat blog Baiquni.net

tetntang bidadari

Lelaki itu berdiri di depanku. “Bagaimana dengan bidadari?” tanyanya membuka kata.

Aku terhenyak, baru-baru datang dalam ruang tanpa dimensi, dia malah bertanya itu. Aku diam tak menjawab pertanyaannya. Bagiku, jawaban atas pertanyaan itu bukanlah sekarang, ketika akupun belum dapat menentukan sosok bidadari itu.

“Mengapa diam?” desaknya.

Bidadari terakhir bagiku adalah “dia“, namun kami telah lama tidak saling berkirim kabar. Aku yang memulai atau dia dalam episode diam itu. Teramat lama hingga akupun lupa.

“Dia” yang terakhir adalah yang mengajarkan aku sujud disepertiga malamku, setelah “dia”, aku tak lagi menemukan bidadari. Akupun teramat malu menyapanya lagi, kondisiku tidaklah seperti dulu. Aku yang sekarang adalah aku dalam kefuturan yang hebat. Aku yang menjadi suatuambigu.

Pertanyaannya membuat akupun bertanya, “bagaimana “dia” bidadariku? Telahkah dia menemukan malaikat bagi hatinya, atau masih adakah ruang untukku menyapanya?”

Tersadar, akupun mengurung niat. Punggungku belum lagi tegak, belum lagi sesuai janjiku. Tunggulah nanti, ketika punggungku sudah tegak aku akan melamar, apakah engkau bidadari yang akan kulamar, ataukah yang lain.

Aku mulai mengerti maksud kedatangan lelaki itu. Pertanyaannya sebenarnya bukanlah, “bagaimana bidadari?” tetapi bagaimana dengan punggungku. Sudah tegakkah seperti yang kudampa, sehingga kelak akan lebih mudah aku mengikat kata.

Bagiku, cinta bukanlah sesuatu yang mutlak. Aku memilih rusukku bukan karena aku dalam keadaan cinta, namun aku memilih seseorang yang mampu berjalan bersamaku menegakkan punggung anak-anakku kelak. Seseorang yang menjadi jalan ketika aku mulai melenceng, bukan seseorang yang akan terus diam dibebek cinta ketika aku mulai melupakan Tuhan.

Namun aku terlalu takut. Takut jika Tuhan memilihkan seseorang yang setara denganku, karena aku tahu betapa jahilnya diriku ini. Semoga nanti, seseorang itu, seseorang yang akan menjadi sandaran bagi jantungku adalah seseorang di atasku, seseorang dengan kemuliaan jiwa dan ketulusan yang sempurna. Seseorang yang mampu menjadi sederhana.

Satu inginku. Kelak bidadariku adalah seorang wanita sederhana.

Tinggalkan Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s