Intelektual Dungu


berbicara kelaparan dan ketertidasan
Lalu berdiskusi tentang neo kolonialisme
Bersama – sama brondong kata – kata hujatan
Menolak kapitalisme dalam setiap hirup nafas

Namun tak pernah tersadar tentang laku
Kita belum benar – benar terbebas dan merdeka
Secara ideologi maupun pola pikir
Terus saja otak bekerja sesuai dekte – dekte lama
Yang saat ini kita dengan lantang menentangnya

kaum intelektual yang dungu
Tak ubahnya keledai ataupun kerbau
kaum pintar yang berputar
Membolak balikan kebenaran demi perut yang lapar
Bisakah disebut kaum reportoar
Jika aksi kita selalu tersingkir di trotoar

Kemudian sama – sama bertanya pada toga para sarjana
Yang dengan angku tersenyum diatas sejuta penantian perubahan olehnya
Masikah ia bertengger di atas kepala sarjana yang egois
Sementara ketertidasan dan jerit tangis
Hanya dijadikan esai pada setiap seminar dan dikusi

kaum intelektual sama – sama menelaah
Pengejawantaan Tridarma
Mampukah merubah kemiskinan
Kita bekotemplasi pada ruang bertumpuk teori
Kemudian sama – sam bertanya pada cermin dalam hati
Kaum intelektaual yang bagaimana aku ini…..?

Kita berpasang mata pada setiap birokrat
bahkan berkata anjing pada tindak korupsi
Tapi memilih bungkam saat dijadikan pejabat
Namun berpuas diri ketika di atas kursi
Lalu tawa sadis mengiringi tangisan

27 November 2010 pukul 8:59

Advertisements

Dua Ribu Tiga Belas


Hak cipta tulisan ini ada pada alamat blog www.seryz150588.wordpress.com

Dua ribu tiga belas.
Dan alunan ini kan selalu sama
Yang kau rasa. Juga kurasa.

Meliuk
Dan selalu meliuk.
Begitulah yang kutahu.
Sampai nanti saatnya berlabuh.

Kita adalah kumpualan yang isoteris
Yang pada tataran isi
Mencoba selalu bereskalasi

Jadi meski lewat duri yang satu
Pasti akan ada dua duri baru.
Karena kita mampu
Walau dunia selalu begitu.

Tegarlah !


Bangun engkau setelah sekian malam berjelaga
Pagi berulang bimbang hati tak karuan
Sembab mata pedih masih sisa air sedih

Deretan pendapat teman, petuah dan kisah orang
Tak jua usir senyap pengap engkau rasa
Justru benak terpojok situasi serba salah

Bingung dilema kehendak mesti bagaimana
Lelah pasrah beban berat semakin
Tapi juga hati bicara engkau sebenarnya butuh
Meski sakit terkoyak jiwa berkeping
Inilah benar adanya,inilah memang keadaanya

Yakinlah bahwa ini akan mendewasakan
Lepas perlahan, biar waktu yang menentukan
Jangan putus asa, tetaplah tegar…

Jepara, 13 Desember 2011

Langit pun juga galau


Galau Akut
Diluar , riuh hujan sedang menari – nari
Disini , dingin jemari bermain koin berlari – lari
Mengalih hati cemas sejak hangat mentari

Sesampai sekarang masih tunggu berita
Gelisah rasa halau tak jenak;
Tak nyenyak
Risauku membelah ;
Galau mengacau

Apa yang terjadi pada engkau ?
Padahal fajar tadi masih kudengar keluhmu
Kisahmu yang menghanyut aku sedalam

Mesti ku tanya pada siapa ?
Pada gelap awan ini kah? Dia bisu.
Pada gemuruhnya kah?
Atau entah….

Jepara 12 Desember 2011

Kolam iblis


kolam iblis

Gelap semalam ada yang tenggelam dalam kolam iblis
Karena dia kehilangan nasehat
Mungkin dia putus asa, atau ?
Dia ingin tahu bagaimana berenang dengan iblis dalam kolam
Bisa juga …

Dibalik suara lain dia juga mengungkap :
” Ingin kuretas rencana Tuhan ”
Setelah itu, dia akan bangun dinding penghalang
Apa dia sedang mengigau ?
Bagaimana mungkin bisa meretas rencana Tuhan !

Tapi lirih sendu setelahnya dia ucap :
” Bolehkah aku pinta restumu ? ”
Maka jika aku menjadi orang yang dia tanya, kan ku jawab :
” aku bingung dengan alur lalu lintas pikiranmu ?”
Bagaimana bisa ada restu jika dia sendiri belum bicara apa yang dia inginkan ?

Mungkin dia sedang galau
Hatinya sedikit tawar
Seperti air sumur tak berasa manis pun pahit
Pikiran dan perasaanya sedang diadu domba

Lalu Kutengok kembali Wajah kalem itu
Pintanya berharap ingin didampingi :
” Aku takut, tolong temani aku “

Mengeja hatim-mu


Apakah senyum pelangi menjadi kecut bagimu ?

Basah embun telah menjadi batu kristal jiwamu;
Menjadikan dingin seisinya

Ku eja kembali bahasa hatimu
Setiap abjad menjadi kosa kata dengan tanya
Apa maksudnya ?

Semalam kutanyakan pada Tuhan. Dia diam.
Atap dan dinding tetap bisu

Dan setan menertawakan. Dia Mengejek.
Tapi iblis iri.
Karena ku mampu menjaga Cinta dengan aman
Meski dihujam hujat diantaranya

Perempuanku,
Apa ku sanggup membungkus sebanyak tak terhitung indahnya?
Juga sembilunya nanti

Jepara, 22 Feb 2012

Cinta yang bagaimana ?


cinta yang bagaimana

CINTA yang bagaimana yang engkau inginkan aku untuk melakukan itu padamu …??

Apakah CINTA yang mengajarkan tentang kearifan dan kebaikan, sebagaimana ibunda terhadap buah hatinya yang selalu mengajarkan kebajikan..

Apakah CINTA yang selalu teriring langkah keihlasan dan ketulusan, mencintai sepenuh dan sesungguh hati..

Apakah CINTA yang yang sederhana, menerima keadaanmu apa adanya, mencintaimu dengan adanya diriku yang apa adanya..

Apakah CINTA yang penuh pengertian dan kesadaran, mengerti apa yang engkau mau tanpa engkau minta, memahami engkau tanpa engkau tuntut aku untuk memahamimu..

Apakah CINTA yang penuh kasih dan sayang, yang mendamaikan engkau saat gelisah menggejolak hatimu, yang memberimu rasa nyaman dan ketenangan..

Cinta yang bagaimana ?
Bisikan perlahan kepadaku sebelum malam nanti cintaku dibeli oleh mimpi.

 

Jepara, 04 sept 2011