Selepas Langit Membiru


Selangkah diamku membunuh perih
Hati yang lembam terkulai tak semudah lekas
Masih rapuh,
Masih menyebab aku tak bergairah
Tak mengambisi

Waktu yang ibarat itu adalah ruh semesta
Tak kuhirau itu,
Biar apa adanya

Jika terik mentari itu bak detak jantung jagad raya
Tapi kubiar abai itu,
Sebab kuingini jiwaku terbakar hitam arang olehnya

Bahkan walau…
Senyapnya malam adalah ranjang kasur,
Guna melelap kepada mimpi
Tapi itu kujadikan seperti tikar,
Kugelar tuk kuurai silam mengenang kemaren

Maka, biar selepas langit membiru esok
Akan nampak gurat warna pelangi
Atau abu bermendung berarak

Tahunan, 19 agustus 2009

dilarang copy paste bung...!!!

Tinggalkan Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s