Selasa, 21 April 2009


Sore ini,
Aku gambarkan diriku telah terbodohkan oleh detik
Juga waktu semalam,
Gundah aku keadaan kosong meruang senyap pikiran
Hingga,
Yang semestinya janji kepadanya harus kulunasi
Dan terlewatkan . . .

Ach, hilang sudah kesempatan; kepada sosok untuk sebuah ungkap
Dengan apakah aku bayar sebesar penyesalanku
Tak kan cukup bila piluku, senduku; tak kan menghapuskan

Duhai pengantin,
Masihkah kan pantas bila “maaf” ku gores di setiap puisiku, untukmu
Itupun kiraku tak cukup sepatah “maaf”, walau beribu sajak ku cipta
Dan, hingga habispun kata kataku tak mampu ulangi waktu itu
Untuk ku hadir di pesta kebahagiaan engkau bertahta cinta

Duh, bodohnya aku …
Harus aku bayar dengan apakah sbesaar penyesalanku ini
Maafkan aku sobatku, pengantin baru
Doaku “semoga kebahagiaan untukmu akan abadi”

___________________________________________________________________________________________
Hmmm…..
ni puisi adalah puisi untuk seorang yang pertama yang menempati hati. Ach namun, bodohnya aku karena tak menghadiri pernikahanya. Padahal aku ingin melihat ia di hari pernikahan. Semoga kau bahagia “my first love”.
___________________________________________________________________________________________

dilarang copy paste bung...!!!

Tinggalkan Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s