puisi yang tumbang


seperti mimpi …
belum sampai waktunya, dan mengigau
parau melengking dari dasar kekosongan, tanpa nada
suara – suara rayuan yang menggoda malam
penuh asmara yang hampa; karena aku hilang
aku terkikis kenangan dan ingatan

tertunduk. sepi dan sendiri
menanti. menanti. menanti ….
sepanjang hiruk pikuk kegundahan
tak juga mereda, tak surut tersapu lengah
masih sisa air ini dalam secangkir cinta;
menyiksa dalam kemabukan

yang lalu inginkan berlalu laju
tinggalkan pergi,hilang titipkan ratapan
sedang angin membawaku bertepi
semakin menepi jiwa yang kalut terenggut
segalanya menahan. menahan. menahan sembilu

dan…
hingga sampai tiba nanti
aku ingin tetap seperti ini

Jepara, 20 februari 2009
___________________________________________________________

Kepada yang terkasih disana, semoga ia mendengar suara dari kejauhan ini. Bahwa masih aku terus memikirkanya…..
___________________________________________________________

dilarang copy paste bung...!!!

6 thoughts on “puisi yang tumbang

  1. hallo sang penyair…..gimana kabarnya,kita genggam erat kebersamaan kita dan kita akan selalu berjalan bersama dalam titian yang indah…

  2. “…setelah angin, petir dan hujan turun, akan ada pelangi di harimu..” cinta walau tak memiliki tpi kubahagia tlah mnjadi bagian dari dirinya..

Tinggalkan Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s