Agustus 29, 2009
Apakah kita ini korban ?
Dari waktu arahkan laju jiwa, menjadikanya nampak seperti tersesat
Kebingungan
tak mengujung pucuk tiang harapan pasti,
menjebak keinginan tiada bebas, selalu terbeban
ini kuartikan benar
tapi itu engkau artikan beda
tak pernah sama apa sebenar benar yang kita mau
apa emang kita tak mampu menyatu asa
atau emang tak berkehandak tuhan atas kita ?
aku mungkin sudah kian terjenuh
juga engkau
apa kita emang tak terizinkan
atas indah cinta yang ingin saling kita rasa
bangsri, 27 agustus 2009
Leave a Comment » |
puisi Dan Syair |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan
Agustus 29, 2009
Setelah berkali aku tanyakan ?
Pilih mana ?
Jalan yang bercabang, barat atau kau ke timur
Entah ….
Itu jawabmu sehabis diammu sejenak,
Kau pandangi aku sedalam
Dengan mata samar berkaca, dan raut serasa takut kehilangan
Malam ini,
Engkau gores seperti belati menikam
Kau patahkan lagi,
Semangat yang belum sepulih semula
Maafkan aku, sayank
Aku tak bisa,
Menerima separuh rasamu masih terbagi yang lain
Aku akan membunuh rasaku ini saja
Biar sesulit kusakit sendiri, biar,….!!!
Maafkan aku, perempuanku
Aku akan tinggalkanmu
Hiduplah saja kau denganya
Tahunan, 12 agustus 2009
& Komentar |
puisi Dan Syair |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan
Agustus 29, 2009
Bila air mata kusesal ahirnya
Buat apa aku mengenal jauh
Untuk apalah harus membuang energi menguras menggali
Pikiran hingga letih penat, sesampai pada titik klimaks
Tapi ini tidak !
Tak seperti perkiraan menuduh aku menyesal
Sesungguh aku merasa seberuntung, seperti dapat emas qorun
Karena pernah mencinta sepenuh kasih, untukmu
Meski tak seindah cerita pada seusainya
Kekasihku, Ani…
Tak kuharap sedikitpun engkau sesali aku,
Tak usah tangisi aku lagi
Bila aku hanya mau mengenang saja, semua yang pernah diantara kita
Karena aku lagi pengin sendiri dulu
Bangsri, 22 agustus 2009
Leave a Comment » |
puisi Dan Syair |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan
Agustus 29, 2009
Baiknya bagaimana jika sudah kecewa
Hati kau patah berulang dusta rayu
Perasaan meradang tiada berdaya kadang
Apakah semesti engkau ucap janji kembali
Atau itu kau dusta buat luka lagi
Aku sudah kecewa
Mulai menutup pintu yang menerus engkau ketuk
Tapi telah enggan aku
Baiknya bagaiamana jika aku sudah sejenuh sekali
Aku mau pergi saja
Dan jangan kau tangisi
Bangsri, 20 agustus 2009
Leave a Comment » |
puisi Dan Syair |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan
Agustus 29, 2009
Semoga matahari mampu membuka cadar dalam hatimu
Agar engkau dapat memberi kebijakan dalam langkahmu
Dan bumi yang akan mendewasakan dan mematangkan keinginanmu
Agar engkau tak salah menentukan kehendak hatimu
Kemudian bintang yang akan menjadi penuntun mimpi indahmu
Agar engkau dapat mewujudkan harapan dan citamu
Bangsri , 08 agustus 2009
Leave a Comment » |
puisi Dan Syair |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan
Agustus 29, 2009
Renggang bercelah waktu memberi kosong
Jarak berkurun hela nafas kadang terisak meriak muka
Seperti jiwa berjelaga, kerontang mengering
Masa …
Telah aku robohkan diri dalam paradigma peradaban
Tak pernah adil, narasiku terkoyak sebelum usai kutulis
Lusuh kugores dan kucabik karyaku sendiri
Lalu . . .
Angkuh dan sombongnya budaya menantang lantang
Menggerakkan waktu membudak aku lemah, tergilas aturan
Serta adat seperti membawa hukuman meraja tiang tertinggi manusia
Masa lalu . . . .
Biar kuhapus semua sisa, coretan coretan dinding hati yang telah melumut
Biar hilang, biar silamku tak terjamah benak lagi
Bangsri, 04 juni 2009
Leave a Comment » |
puisi Dan Syair |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan
Agustus 29, 2009
Selangkah diamku membunuh perih
Hati yang lembam terkulai tak semudah lekas
Masih rapuh,
Masih menyebab aku tak bergairah
Tak mengambisi
Waktu yang ibarat itu adalah ruh semesta
Tak kuhirau itu,
Biar apa adanya
Jika terik mentari itu bak detak jantung jagad raya
Tapi kubiar abai itu,
Sebab kuingini jiwaku terbakar hitam arang olehnya
Bahkan walau…
Senyapnya malam adalah ranjang kasur,
Guna melelap kepada mimpi
Tapi itu kujadikan seperti tikar,
Kugelar tuk kuurai silam mengenang kemaren
Maka, biar selepas langit membiru esok
Akan nampak gurat warna pelangi
Atau abu bermendung berarak
Tahunan, 19 agustus 2009
Leave a Comment » |
puisi Dan Syair |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan
Agustus 29, 2009
Menanti itu menjemukan
Apalagi selama waktu itu tetap mengosongkan, hampa
Butuh kesabaran untuk mampu bertahan
Menjaga, serta setia pada cinta
Membosankan kadang itulah belenggu siksanya
Meski kuat pasti keyakinan menegak hati
Sesedikit juga peluh memaksa keluh seluruh
Tapi, inilah jalan kehendak rasa agar kudapat
Kelak kumiliki cinta pada waktunya indah
Dan,
Akan tetap aku menjaga
Aku setia
Aku akan tetap menantimu
jepara, juni 2009
1 Komentar |
puisi Dan Syair | Ditandai: menanti, penantian |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan
Agustus 11, 2009
Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu
Rendra
31 July 2009
Mitra Keluarga
___________________________________________________________________________________________
Puisi ini adalah puisi terahir almarhum W.S Rendra yang beliau tulis sesaat sebelum beliau kembali ke pangkuan Tuhan. Penghargaan yang setinggi tingginya kepada beliau kita berikan atas perjuangan dan karya-karya fenomental beliau selama semasa hidupnya. dan semoga beliau tenang di sisinya. Amin ..
___________________________________________________________________________________________
Leave a Comment » |
puisi Dan Syair |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan