Sore ini,
Aku gambarkan diriku telah terbodohkan oleh detik
Juga waktu semalam,
Gundah aku keadaan kosong meruang senyap pikiran
Hingga,
Yang semestinya janji kepadanya harus kulunasi
Dan terlewatkan . . .
Ach, hilang sudah kesempatan; kepada sosok untuk sebuah ungkap
Dengan apakah aku bayar sebesar penyesalanku
Tak kan cukup bila piluku, senduku; tak kan menghapuskan
Duhai pengantin,
Masihkah kan pantas bila “maaf” ku gores di setiap puisiku, untukmu
Itupun kiraku tak cukup sepatah “maaf”, walau beribu sajak ku cipta
Dan, hingga habispun kata kataku tak mampu ulangi waktu itu
Untuk ku hadir di pesta kebahagiaan engkau bertahta cinta
Duh, bodohnya aku …
Harus aku bayar dengan apakah sbesaar penyesalanku ini
Maafkan aku sobatku, pengantin baru
Doaku “semoga kebahagiaan untukmu akan abadi”
____________________________________________________________________________________________
Hmmm…..
ni puisi adalah puisi untuk seorang yang pertama yang menempati hati. Ach namun, bodohnya aku karena tak menghadiri pernikahanya. Padahal aku ingin melihat ia di hari pernikahan. Semoga kau bahagia “my first love”.
____________________________________________________________________________________________
















