Apa sih..!

apa sih

:Ali Zaenal Albar

hmmm…
ku hela nafas, ragu
ku buka pintu yang lama tak ku ketuk
ruang lawas lengkap dengan prabot lapuk
wewangian menyan romantisme yang masih tersuak

satu-dua kali langkah ku beranikan diri memasukinya
aura mencekam, smakin mencekik dengan bayang-bayang slaksa masa lalu

hmmm…
ku hela nafas panjang…
ku pejamkan mata.
sisihkan tembok besar idealisme
sejenak beri kesempatan harmoni hati bersenandung
mungkin ini akan lebih bersahabat

hmh…
ku hela nafas lagi, panjang…
ku buka mata.
PERLAHAN …
LIHATLAH…!
ruangan ini nampak lebih indah, teramat indah malah
sembarang tempat mawar putih menghias indah,
semakin indah dengan sejuta klopaknya yang menyambut lembut setapak peragu ini

hmmm…
ku hela nafas lagi, panjang, kali ini lebih panjang…
panjangggggggg banget…
betapa indah dan kagetnya aku.. WHOUUUU!!
ups…
“sejak kapan ranjang di ruangan ini bertambah lebar”
ini ranjang cukup, bahkan memang teruntuk 2 orang yang damai

huh…
kali ini ku biarkan jiwaku melayang entah kemana
ragu, kaget, shok, takut, risau, malu,
ENTAHLAH…
RANJANG ITU BENAR2 MENGAHANTUIKU

HEY…!
lihatlah selaksa paras anggunnya baru-baru ini seolah berpendar..
terang, terang banget, amat-teramat terang malah…
sdikit terangi senyum ini
tapi itu lebih dari cukup untuk tenggelamkan segala keindahan

HYAH…
setapak indah menuju persada damai
sedamai perangainya
KOMPLIT dengan kopi dari surga

Jepara, 18 Januari 2012

By Kusumo Diningrat Posted in Puisi Tagged

Bidadari – bidadariku

bidadari bidadari ku

:Ali Zaenal Albar

Bidadari-bidadari hari ini tertaut pandangannya pada danau kebebasan dan persamaan. hal baru seru mereka. dari kahyangn kemuliaan, biasan kilau danau menyilalukan mata mereka. entah hanya fatamorgana entah realita. tanpa izin rasio, mereka mencoba membuktikanny dengan turun langsung ke bumi.

berkas cahaya warna-warni padu-pelangi mengiringi segenap kepakan selendang kemuliaan mereka. sesampainya di danau itu, ada syarat yang harus mereka iyakan. jiika ingin menikmati segarnya mandi di telaga kebebsan itu. TANGGALKAN SELANDANG-SELENDANG PENGANTAR\KENDARAAN MEUJU KEMULIAAN KAHYANGAN. demi kilau kebebasan, tak pelak mereka pun rela melucutinya, tentunya tanpa melalui celah filter logika.

entah siapa yang membuat undang-undang seperti itu. Alamkah, atau ideologi jejeka TARUB, yang terlumuri nafsu birahi?, entahlah…

Yang pasti. hari ini tidak hanya satu dari tujuh bidadari yang tereksploitasi kepolosan dan kelembutannya dengan seribu-satu buaian kata cinta serta janji palsu TETARUB, selendang pengantar kemuliaan nun purna, tergadaikan oleh jejaka tak bermoral.
dan kini tujuh-tujuhnya pun terbuai sekaligus terkoyak dan tertikam kenistaan nun hina oleh kilau danau ideologi, imajiner, buatan segelintir insan bermoral tarub. insan?, lebih tepatnya, mereka yang mulai meninggalkan keinsanannya.

hi, bidadari-bidadariku…!

rebutlah kembali selendang-selndang hijab pengantar kemuliaan, dari tangan-tangan jejaka-jejaka bermoral tarub.
sebaliknya. terbuailah kalian dengan kilau-indah gaun suci FATIMAH, seraya mencoba tuk mengenakannya. jangan terbuaidengan laafadz-lafadz cinta tanpa ruh, dari mulut-retorik mereka.

kemaren, sekarang dan kelak Bunda ZAHRA denga sabar akan menunggu putri-putrinya tuk masuk surga kahyangan bersama beliau, seraya terus-menerus di temani kecemasan mendalam akan hadirnya kalian, bidadari-bidadari yang lupa diri. kegelisahan Bunda ZAHRA begitu jelas dengan peraduannya kepada ayah(pangeran dari arab untuk semesta, MUHAMMAD), suami(pujangga, sekaligus filosof sepanjang masa, ALI), serta kedua pangeran muda surga beliau(pangeran yang terampas singgah-sananya, HASAN, dan pangeran yang terabaikan dan terbunuh, HUSAIN), tuk mencari dan menjemput kalian, yang tersesat di belantara kebebasan ini, bahkan, sekalipun kalian mulai tergelincir dalam belukar-berapi nun menakutkan.

 

Jepara, 19 Mei 2010

Ku pahat wajah Tuhan

memahat wajah tuhan

:Ali Zaenal Albar

 

Di belakang rumah kayu beratapkan welit, seorang pemahat dudk termangu demi melihat sebatang kayu yang akan di garapnya. pemahat mulai memikirkan pola apa yang akan di garapnya.

sesaat pemahat memandangi langit yang begitu indah, “karya yang begitu indah” suara hati meneduhkan jiwanya.
“MAHAKARYA, ya aku ingin membuat relif agung, dan objeknya harus AGUNG…!!” antusiasme yang tingggi mendorongnya lekas-lekas menyiapkan 35 varian pahat, beserta palu kayu tu’ memukulnya.
kini pemahat menaruh bongkahan kayu di atas meja kerjanya. dalam angannya ia meminta izin pada objeknya. “gusti… ku ingin memahat WAJAHMU, betapa indah, dan cerahnya langit yang kau bentangkan, dan betapa indahnya kebun-kebun yang kau hamparkan. dan itu menunjukkan betapa MAHA INDAHNYA yang menciptakan ini semua. YA. GUSTI… ku ingin memahat wajahMU”

pemahat hanya mempunyai sedikit pola gambaran tentang wajah tuhan.
“tuhan tidaklah sama dengan ciptaanNYA” setidaknya itu yang pernah ia dengar dari guru spiritualnya.
pemahatpun memulai pekerjaannya dengan menggarap bagian atas terlebih dahulu. Ya. tentunya itu bagian rambut tuhan “model rambut yang seperti apa ya? yang sama sekali berbeda dengan model rambut makhluknya?”
sejenak pemahat mencari-cari gambaran, hingga akhirnya melanjutkan garapan ke bagian jidat tuhan. pertanyaan serupa pun mulai menggelyuti benaknya. dan “selebar apa jidat TUHAN?” mengakhiri pertanyaan tentang pola jidat tuhan. kali ini pemahat memerlukan waktu yang cukup lama sebelum akhirnya ia melanjutka ke bagian matanya.
Siti… YA… pemahat teringat betapa indah mata Sitii… “duh gusti alisnya bak bulan sbit, kedua bola matanya memancarkan cahaya, dan tatapannya gusti… bak pisau yang siap menyayat hati setiap pemuda.” pemahat malah tenggelam dalam keindahan mata Siti.
dengan sigap pemahat melanjutkan garapannya. kali ini pemahat meluangkan banyak waktu untuk menggarapnya, karena “memahat mata Siti aja aku dah kesulitan” batinnya.
hingga akhirnya pemahat merampungkan garapannya, setelah susah payah ia tenggelam dalam bayang-bayang bibir dan dagu si Siti lagi, dan beberapa orang lain yang ikut serta dalam audisi mencari pola bibir dan dagu tuhan.

pemahat meletakkan pahat dan palu kayu di sebelahnya. sambil memijat leher dan bahunya sendiri pemahat melihat hasil akhir garapannya. dan “selesa sudah garapanku” pemahat tersenyum.
ya tersenyum. yang entah dalam artian apa senyumannya itu, puaskah? atau malah tersenyum getir demi melihat WAJAH TUHANnya.
kau perhatikan seja hasil garapannya!!! dan lihatlah………..

“BONGKAHAN KAYU ITU TA’ TERGORES PAHAT SEDIKITPUN”

 

Jepara, 29 September 2010

The True Love

tentang cinta

:Ali Zaenal Albar

Sesa’at, seseorang ketika memandang lawan jenis, jantung terasa berdegup lebih kencang, badan terasa lunglai demi melihatnya, matapun mulai ta’ berdaya memalingkan pandangannya, dan banyak reaksi-reaksi aneh yang akan timbul demi perasaan ini. Itulah gejala yang disinyalir sebagai cinta.
Apakah ini yang namanya cinta, yang konon katanya datangnya pada padangan pertama. Manun ketika seseorang tadi yang terasa begitu aneh setelah melihatnya mulai menjalin tali pengenalan, ta’ jarang orang seperti ini mulai melihat sisi si dia yang ta’ lagi membuat jantung berdegup lebih kencang ataupun badan yang mulai lunglai ta’ kuasa memandang keindahannya, melainkan guratan emosi yang nampak pada nadinya, senyum bahagiapun tergantikan maknanya. Kini senyum getir yang sering keluar demi melihat lakunya.
Apkah rasa seperti ini yang dinamakan CINTA?
Mungkin itu lebih tepat dinamakan nafsu pada pandangan pertama.

Sungguh jika cinta seperti ini. Niscaya ta’ ada lagi pujangga yang dibuat gila oleh syair cintanya. Lantas cinta yang seperti apa?

Beberapa orang mulai menyodorkan makna cinta yang lain, mereka mengklaim bahwa merekalah yang telah meraskan cinta. Terkisah dalam benaknya, cintalah yang memautkan dua hati yang ketika terkasih tersakiti, pecintapun merasakannya. Inilah cinta. Katanya. Lantas datang dari mana cinta seperti ini?
Katanya “datang begitu saja”.
Jika di reeway kita akan menyaksikan proses itu dalam gerak lambat. Pada mulanya pecinta tak merasakan apa-apa, tetapi sejalan dengan tutur kata yang terhubung antar keduanya. Rasa anehpun mulai menyelusup di hati pecinta. Gundah, tatkala terkasih mulai tidak menampakkan cahaya lakunya. Gelisah, ketika terkasih hilang dari pandangannya. Dan akan banyak lagi perasaan-perasaan aneh yang berdatangan senafas dengan hembusan waktu.
Apakah yang demikian juga cinta?
Duh… mungkin rasa itu lebih tepat dinamakan kebiasaan. Ya. Rasa itu akan terajut dengan benang waktu.
Beri sedikit waktu! “Cinta” kan datang karena terbiasa.

Lantas cinta yang seperti apa lagi?

Cinta adalah sebuah format yang jauh sebelum si pecinta merasakannya, rasa itu telah bersemayam di hatinya. Karenanyalah manusia masih terdaftar dalam buku penghuni bumi. Sungguh dalam rasa itu. Sehingga jika seseorang berusaha tuk memenuhinya dengan hal yang kecil niscaya, hanya tetepian yang terjamah olehnya. Di dalamnya lah beberapa pecinta memasukkan terkasih yang takkan pernah memenuhi palung emosi cintanya.
Sesaat, betapapun manusia mencoba menafikan dan mengabaikannya, gelisah dan rasa ada yang kurang, akan menghantui ketenangan jiwa. Dan sebaliknya jika insan barakal mencoba memennuhi hasrat ini dengan hal-hal kecil, niscaya dalam dan luasnya samudra cinta takkan pernah terarungi.
Manusia dengan ragamnya latar dan pola pikir yang melekat pada paradigmanya, kadang meniscayakan berbagai perbedan yang selanjutnya berakibat pada konflik berkepanjangan.
Namun cinta adalah sebuah format yang tak perlu pada perelasian, dan cinta justru berupa intuisi tak memerlukan dalil, dan proses berfikir. Ynag pada akhirnya menuntun manusia dalam kebersamaan menuju pemenuhan hasrat bercinta, pada terCINTA sejati. Yang selanjutnya sabda-sabda terCINTA memantrakan idiologi supaya terrefleksikan dengan loyalitas totalitas total pada terCINTA. Dan dengan itulah pemenuh samudra tak bertepinya cinta, akan menyerukan manusia pada satu tujuan yaitu kedamaian kasih dan cinta.

Jepara, 01 Januari 2010

Tuhan Main Gila

tuhan

:Ali Zaenal Albar

” Tuhan tuh minta di deketin…”
Entah apa yang tersirat dalAm tu kalimat…

Bukannya Tuhan itu dekat? teramat malah! bahkan lebih dekat dari urat nadi kita sendiri…!

Entahlah… tetapi sekarang yang kurasakan, setiap kali ku coba tuk berpaling dan menggantiNYA dengan yang lain, seakan ada wajah TUHAN samar-samar terus membayang. Seakan ingin di perhatikan, meskipun diri ini juga tertarik tuk dekat dengannya, demi melihat belukar-berduri yang terus menghalangi langkah ini….

“Tuhan tuh kaya’ wanita yang berhijab” satu statement yang keluar dari kawan Tuhan.
Anggapan seperti ini benar juga. Sjenak ku berdamai dengannya…
Keberadaannya dengan cadar semakin membuat kita penasaran, dan tertariklah kita tuk berupaya penuh usaha dami kedekatannya, tuk melihat dengan jelas pesona elok wajahnya…, Entahlah…, Kaya’-kaya’nya Tuhan lagi maen petak umpet ma kita…

Dan yang lebih parah… TUHAN masangin susuk di lsetiap lubuk hati insan, tuk dekat dengannya…

Dan aku pun terjebak dalam PERMAINAN GILA TUHAN

 

Jepara, 01 April 2010

Njeporo-Ku

tugu kartini jepara

:Ali Zaenal Albar

beberapa orang boleh tuli, sebagian manusia boleh buta, dan mereka pun, manusia, boleh mati rasa, tapi hati nurani nun suci ribuan kali berlipat ganda kepekaannya dalam menangkap fenomena yang menggetarkan alam ruh…
Ricuh, gaduh, dan bising. Bumi kartini begitu tinggi frekwensi sumbang laku penduduknya, kaum kartini termakan propaganda makna emansipasi. Yang pada mulanya emansipasi hanya bermarkas di sektor pendidikan, kini terpolitisi dengan kebebasan tak bertanggung jawab dunia barat. Kartini yang pada mulanya begitu gigih ingin menyamakan status dalam penuntutan ilmu, seperti yang telah di konsepkan islam dan terproyeksikan dalam pengkaderan Fatimah oleh adi insan, Muhammad. Gulita jahiliyah perangai badui pun sirna dengan munculnya surya penghacur budaya gelap jahiliyah. Dan baru satu setengah abad yang lalu kepekaan dan kegigihan kartini dengan suara lantang memecah keheningan intelektual kaum hawa, beliau berpeluh-kesah demi terwujudnya persamaan gender dalam mengenyam pendidika. Hasilnya wanita indonesia tercerahkan setelh malam panjang kebodohan. Habis gelap terbitlah terang. Sungguh indah mutiara kata beliau, namun tak seindah laku mereka yang setiap tahunnya mengaku memperingati beliau namun tak mengabadikannya dengan menjaga kehormatan intelektual penjaga kesucian kaum hawa…
Ya, mereka malah sibuk mengeksiskan diri bukan dengan intelektual perjuangan kartini, melainkan sensualitas jasad hina nafsu hewani.
Bodoh, pura-pura bodoh, dan acuh. Sekali lagi, kartini bukan berkeluh-payah demi emansipasi yang menjurus ke sisi pengeksploitasia nsensualitas, beliau hanya ingin memuliakan kaumnya dengan intelektual.
Terdengar dan nyata terpampang di bumi ukir kartini, kaumnya berbondong-bondong menanggalkan akal selaras dengan terurainya busana minin pengumbar kehinaan sensualitas. Tak ayal, demi menyadari lingkungan yang begitu sensual, para lelaki hidung-belang tidak jauh-jauh lagi mencari tempat prostitusi, di tanah merah perkampungan pun telah terinjak kaki gemulai wanita “jalang”. Entah dari mana semua itu bermula…?
Bukankah lima abad silam ratu Kencana selaku putri kerajaan bumi ini pernah berkeluh-nanar pada sikap cabul aryo penangsang terhadap wanita bumi pesisir ini…?
Tanpa pengayom beliau linglung tuk berlindung dari penghinaan aryo penangsang dan pengikutnya, beliau lantas terkulai bersila di atas batu granit menanggalkan busan dedaunan dan sutra kemewahan, beriringkan dzikir, beliau haturkan segenap keluh kesahnya tentang penghinaan terhadap kaum hawa bumi ukir ini, kepada pemilik segala urusan.
dikisahkan silih berganti para malaikat menghiburnya. di malam jum’at tepatnya, beliau bertekat menjaga kesucian wanita. satu-dua mengatakan beliau terangkat menjadi bidadari.

entahlah… kaum hawa di bumi ayu jepara kini justru pulas dalam kebodohan dan kenistaan…
SHIMA sang ratu pun mungkin enggah memerintah, jika wanita seperti hewan…

apa salah KARINI….?
apa salah RATU KALINYAMAT, putri sang sunan…?

sehingga perjuangan mereka terasa hampa, tanpa bekas…!

jeparaku, ku iba denganmu…?

Jepara, 10 April 2010

Kosong

diri kosong

:Ali Zaenal Albar

KOSONG. kini semua berubah dan kembali seperti semula, KOSONG. setelah ku meraba dan merasakan betapa kasar dan tajamnya kebun-berduri problematika manusia dewasa ini, dan setelah ku bekali tangan dan setiap inci dari kulitku dengan secarik pengetahuan dan pengalaman minim, ku ingin meratakannya dengan godam besi TEKADku.

KOSONG. seakan semua kembali seperti semuala. belukar-berduri yang akhirnya hanya bisa ku pandang, tanpa sedikitpun mencoba meratakan satu per satu, semampuku. seraya terus dalam penantian datangnya GODAM kekar mukjizat TUHAN. sedikit pun keinginanku tak mampu merealisasikan GODAM besi penghantam dan perata kebun-berduri ini.

IRONIS justru kini ku berupaya tuk menebalkan pelapis jemari dan setiap mili kulitku, dengan menebal dan menguatkan RASIO yang justru semakin meMATIkan sensitifitasku, menyamarkan kepekaan akan nada sumbang jerit payah mereka, dan jelaslah kebenaaran menjadi hal yang paling kabur, hari ini.

Jepara, 2 Juni 2010

Untung

untung

Bibirnya terkatup langit, kerak mengering
Matanya berpendar berkaca , itulah cara dia berbahasa
Tangan , juga kaki yang telanjang
Dekil tubuhnya kurus tulang;
Selalu saja menahan lapar,
Selalu saja bermimpi makan kenyang…
Bocah malang yang tersisihkan

Untung, begitulah nama sebutan dari teman – temanya
Sayang tak seberuntung anak gedongan,
Yang hidup berlimpah kemewahan, lupa pada Tuhan

Untung, memang dialah yang beruntung
Tumbuh waktunya dalam kearifan syukur
Belajar dan menelaah pada hidup yang sebenar benarnya
Walau tak berpredikat sarjana seperti anak kuliahan

Dengan sabarnya hati, sebagaimana bumi yang menerima
Dengan lapangnya jiwa, seperti luas biru samudra
Tak pernah putus asa, semangatnya terus berapi bara
Tak sedikitpun menyerah, selalu memperjuangkan mimpinya
Agar bisa makan kenyang…

Bangsri, 06 des 2011

tetntang bidadari

Bagaimana Dengan Bidadari

Hak cipta tulisan ini ada pada alamat blog Baiquni.net

tetntang bidadari

Lelaki itu berdiri di depanku. “Bagaimana dengan bidadari?” tanyanya membuka kata.

Aku terhenyak, baru-baru datang dalam ruang tanpa dimensi, dia malah bertanya itu. Aku diam tak menjawab pertanyaannya. Bagiku, jawaban atas pertanyaan itu bukanlah sekarang, ketika akupun belum dapat menentukan sosok bidadari itu.

“Mengapa diam?” desaknya.

Bidadari terakhir bagiku adalah “dia“, namun kami telah lama tidak saling berkirim kabar. Aku yang memulai atau dia dalam episode diam itu. Teramat lama hingga akupun lupa.

“Dia” yang terakhir adalah yang mengajarkan aku sujud disepertiga malamku, setelah “dia”, aku tak lagi menemukan bidadari. Akupun teramat malu menyapanya lagi, kondisiku tidaklah seperti dulu. Aku yang sekarang adalah aku dalam kefuturan yang hebat. Aku yang menjadi suatuambigu.

Pertanyaannya membuat akupun bertanya, “bagaimana “dia” bidadariku? Telahkah dia menemukan malaikat bagi hatinya, atau masih adakah ruang untukku menyapanya?”

Tersadar, akupun mengurung niat. Punggungku belum lagi tegak, belum lagi sesuai janjiku. Tunggulah nanti, ketika punggungku sudah tegak aku akan melamar, apakah engkau bidadari yang akan kulamar, ataukah yang lain.

Aku mulai mengerti maksud kedatangan lelaki itu. Pertanyaannya sebenarnya bukanlah, “bagaimana bidadari?” tetapi bagaimana dengan punggungku. Sudah tegakkah seperti yang kudampa, sehingga kelak akan lebih mudah aku mengikat kata.

Bagiku, cinta bukanlah sesuatu yang mutlak. Aku memilih rusukku bukan karena aku dalam keadaan cinta, namun aku memilih seseorang yang mampu berjalan bersamaku menegakkan punggung anak-anakku kelak. Seseorang yang menjadi jalan ketika aku mulai melenceng, bukan seseorang yang akan terus diam dibebek cinta ketika aku mulai melupakan Tuhan.

Namun aku terlalu takut. Takut jika Tuhan memilihkan seseorang yang setara denganku, karena aku tahu betapa jahilnya diriku ini. Semoga nanti, seseorang itu, seseorang yang akan menjadi sandaran bagi jantungku adalah seseorang di atasku, seseorang dengan kemuliaan jiwa dan ketulusan yang sempurna. Seseorang yang mampu menjadi sederhana.

Satu inginku. Kelak bidadariku adalah seorang wanita sederhana.

Selaksa hati

selaksa hati

:Ani Hilma

angin – angin berasap arang gema berguruh
membungkus tawang hati rendah berharap
meranjat lamun dalam senyum kau rayu aku
waktu mencecah capai langkah terparuh,
retak terurai …
terjerahap aku di lembah cinta pujangga

harusnya logika sadar membenci
sebab kau tak cukup bisa menafsir isi dadaku
sayangnya,
hati bicara kehendak agar tetap mencintaimu

” Note : susunan bahasa dari puisi  yang asli telah ditata ulang “

Andai

Sore tiba abstrak gambaran langit tak secerah
laksana hati kali ini,
abu – abu, coklat, hitam …
terkesan warnanya durjana
kelam…

sebab janji itu nyatanya bual buaian
Padahal,
Ku daki selangit mencapai mega – mega asa kala itu
dan sekarang,
jatuh ahirnya hanyut membuih tenggelam.makin dalam

Kasih pada kekasih gelap-ku pun karam bersama karang
kisah tentang mimpi semalam hanya rayuan

Andai ku tak begitu berandai
ANDAI……

Komedi dua dunia satu hati

: inspired from the story of my friend :

Benih sedebu jatuh tumbuh
Meski sekecil …
Kelak mesti buah terasa manis madu

Ini adalah tentang komedi dua dunia satu hati
Dua anggapan berlainan yakin nanti ada keselarasan

Bukan mustahil lagi !
Tapi titik klimaks,
Tak hanya berhenti pada terminal obsesi

Bukan landai lagi !
Jalan sukar dan curam,
Justru memacu adrenalin hasrat cita dan cipta

Semua ini mungkin ….
Jika kau mau

Jepara,07 jan 2011

Gundah , ah sudahlah

Tampaknya ada suara – suara bersaut
Menderu !
Jauh di kolong dan lorong lorong sempit ruang kedap
Kedengaranya ada yang sedang diperbincangkan
Jiwa ini diam, hati ini pun turut sunyi
hmmmm…
Suasana hangat sontak menggemuruh seperti gelegar langit marah

Apakah ini adalah bisikan iblis
Picik mencoba membawa pada arah salah menilai sekedar
atau ?
ini suara setan, katanya …
Apa bedanya kalau begitu ?
Kedua sama halnya, berharap gembira tertawa terbahak meleceh jiwa gundah

Seketika rasanya senyap
Bersama hilir bayang bayang menggiring entah kemana
Hingga beratus tanya tak berjawab, makin terpasung aku dibuatnya

Ku lelah …
Suara lirih itu terdengar terlalu lemah
Tapi ku butuh …
Dan yang ini sedikit dramatis

Gundah, ah sudahlah …

Sepi, Sunyi, Sendiri

sepoi sendiri

: Ali Zaenal Albar

Sepi…
gemerlap ibu kota pernah begitu gempita
namun, sedikit pun tk mampu mengetuk pintu hati
dengan keheningan malam, dusun yang terselimuti kabut pun;
terkadang justru mampu meramaikan pelataran sukma
demi melihat karnaval bayang-banyang nya…

Sunyi…
jalan depan rumah tk pernah sunyi,
hilir-mudik ratusan kendaraan mengantarkan bermacam keperluan
sirine, klakson, knalpot…
tau entahlah..?
namun hati ni terkadang masih terasa sunyi
aku putuskan untuk terdiam dalam ruang kedap,
perlahan namun pasti anganku mulai merangkai wujud indahnya
teriring syahdu irama akustik angin malam

Sendiri
di rumah bgtu ramai
meski itu hanya ibu, kakak, dan adek
selebihnya…? ENTAHLAH… ?
itu sudah cukup alasan kalo ku tak sendiri…
namun hati ni bgtu asing,
terasa mereka bahkan dunia pun seakan sirna tertelan kesendirianku
duduk termangu beratapkan langin
ditemani seutas kesendirian
sempurna tk ada lgi lawan bicara…
diam-diam satu-dua dialog mulai terurai
hatiku bgitu riuh saat ku berbicara tentangnya
akal pun bersorak-ramai sahuti puja-puji tentang nya

Saripan, 14 Sept 2011

Hati wanita

seorang wanita,
yang sedang ada dalam kebimbangan..
ingin tetap dalam komitmen hati, atau ingkar pada rasa..?

seorang wanita,
yang sedang dalam keraguan..
ingin bertahan dalam kekuatan dan kelemahan, atau menyerah pada keputus asaan..?

seorang wanita,
yang sedang dalam dilematis keadaan..
ingin pergi dari semua yang menekan, atau memperjuangkan rasa diantara hujatan..

seorang wanita,
yang sedang dalam bingung kepayang..
ingin ini atau itu ? tak tahu mana yang benar dia inginkan..?

seorang wanita…
dia,
yang akan menjadi penentu kisah masa depan…
atau ..?
yang akan menjadi lembaran cerita silam, komedi kehidupan yang abadi …

kuserah ini semua pada dia..
seorang wanita,
yang kucinta..
always love him