Februari 3, 2010
ku ingin yang dulu
anggun merias aura langkahmu
pesona yang mampu mengalihkan wajahku
cahaya putih yang menembus dinding hati
rasa menghujam penuh misteri
ku ingin saat itu
waktu kudengar detak jantung kita menari seiringan
saat aku hidup dalam nikmatnya siksa kerinduan
dan bila lelap menghalau doaku besok agar segera bertemu
hingga saat kutatap rautmu tak kan kulepas pandangku
tak kan kulepas genggam jemariku
ku ingin itu semua
harap agar ada saat ini dalam hariku
di saat rasa mengancam akan membunuh
di saat rapuh hatiku seperti lapuk ranting tua
ah, tapi mungkin tetap saja
rasa akan terus mengancam
-6.529406
110.753697
Leave a Comment » |
puisi Dan Syair |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan
Februari 2, 2010
bibir sudah seperti terkunci oleh langit
jangan kau tanyakan kembali
lara yang merenggang hingga sukma
hingga waktu berhenti
selebihnya aku tak lagi peduli
maka, harap terima layaknya bumi yang bijak
tak perlu meminta dengan air matamu
yang mengolam meretak kemarau
munkin kita temukan kejora masing – masing
dan kosong yang membuatmu mengerti
-6.529406
110.753697
Leave a Comment » |
puisi Dan Syair |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan
Desember 30, 2009
diamku bukan berarti batu, bisu
acuhku, lebih terkesan biar engkau pahami
tak peduliku, biar engkau artikan agar terfikirkan
tak terabaikan ucapku sempat saat itu
mungkin aku ingini seperti ini
seperti anggapanmu aku ini batu
yang tak lagi bertanya
tentangmu ? kabarmu ?
harusnya kau sadari
aku jenuh..!
biar engkau pahami arti
biar kau selami dadaku
-6.529406
110.753697
Leave a Comment » |
puisi Dan Syair | Ditandai: bosan, jenuh |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan
Desember 8, 2009
apakah enggan mencabik dusta bibir
yang masih bisa dan biasa
merayu cumbu bunga asmara
memuja dan puji setara tinggi sehingga tujuh lapis
atau juga entah
bosan terhambur jenuh setiap lengah waktu
kosong pikiran tak menempat hati yang bercampur
rasa pada awalnya manis memabukkan seperti secawan anggur
tapi tak jelas kini ?
kurasa telah kusam, menyudutkan jiwa yang harap
agar dimengerti
tak sekedar dicintai
apakah enggan kini ?
atau jenuh yang membunuh
-6.529406
110.753697
Leave a Comment » |
puisi Dan Syair |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan
November 14, 2009
cinta tak lebih terkesan
tertambat bila
seandai semusim jiwa yang membenih
dapat tumbuh membuah
sekedar ucapkah seperti semudah meludah
terkadang lupa mengingkar sumpah
padahal berulang tak sekali
namun tertunduk diam saat langkah terbukti
jelas salah …!
tapi, masih jua bisa berkata semacam sebenarya
tak ingatkah ketika cumbu bibir berucap
merayu berjanji agar tak mengulang
janji…
yang kosong
apakah masih ada cinta seindah
cinta yang berkesan
bila janji seperti semudah sumpah teringkari
biar aku diam saja
dan engkau pikir kembali
ucapmu
bangsri, 12 Nopember 2009
& Komentar |
puisi Dan Syair |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan
Oktober 4, 2009
sosokmu dalam sebingkai memori terkenang
terlihat engkau tetap angkuh dari sorot pancarmu
senyum yang tersembunyi lara dibaiknya
selintas mengingat dulu engkau sempat jadi yang indah
kadang sesekali bayangan ingin menemuimu
sejenak
tapi terpupus karena hilang sudah aku kubur bernisan
karena bukan saatnya, kita sudah jauh berbeda
dari dulu hati saling mengenal
dan beranjak lekas menjauh langkah
wajahmu yang tergurat masih indah
tak berubah walau sejengkal jarak tak merekat waktu kita
masih tetap terlihat angkuhmu
masih tetap terlihat pesona acuhmu
-6.529406
110.753697
& Komentar |
puisi Dan Syair |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan
Agustus 29, 2009
Apakah kita ini korban ?
Dari waktu arahkan laju jiwa, menjadikanya nampak seperti tersesat
Kebingungan
tak mengujung pucuk tiang harapan pasti,
menjebak keinginan tiada bebas, selalu terbeban
ini kuartikan benar
tapi itu engkau artikan beda
tak pernah sama apa sebenar benar yang kita mau
apa emang kita tak mampu menyatu asa
atau emang tak berkehandak tuhan atas kita ?
aku mungkin sudah kian terjenuh
juga engkau
apa kita emang tak terizinkan
atas indah cinta yang ingin saling kita rasa
bangsri, 27 agustus 2009
Leave a Comment » |
puisi Dan Syair |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan
Agustus 29, 2009
Setelah berkali aku tanyakan ?
Pilih mana ?
Jalan yang bercabang, barat atau kau ke timur
Entah ….
Itu jawabmu sehabis diammu sejenak,
Kau pandangi aku sedalam
Dengan mata samar berkaca, dan raut serasa takut kehilangan
Malam ini,
Engkau gores seperti belati menikam
Kau patahkan lagi,
Semangat yang belum sepulih semula
Maafkan aku, sayank
Aku tak bisa,
Menerima separuh rasamu masih terbagi yang lain
Aku akan membunuh rasaku ini saja
Biar sesulit kusakit sendiri, biar,….!!!
Maafkan aku, perempuanku
Aku akan tinggalkanmu
Hiduplah saja kau denganya
Tahunan, 12 agustus 2009
& Komentar |
puisi Dan Syair |
Permalink
Ditulis oleh Penyair Glandangan