ANGGUR KHAYANGAN


Bila puisi tak mampu menggetarkan hatimu
Dawai-dawai cinta tak lagi merobohkan singgasana cintamu
Apa lagi yang harus aku lakukan wahai cawan hati ku
Disampingmu aku tidak lagi lelaki
Dipelukmu aku bukan lagi satria ber tombak
Namun aku adalah aku yang kau utuhkan dengan hidupmu
Hidupmu yang begitu memberi gores arti dalam hidupku
Kau cawan cintaku
Anggurnya adalah dewa dewi khayangan
Air surga namanya
Surga keharibaan cinta yang menyambar meluluhkan singgasana.

Pena Cinta Ranger

2013

Dua Ribu Tiga Belas


Hak cipta tulisan ini ada pada alamat blog www.seryz150588.wordpress.com

Dua ribu tiga belas.
Dan alunan ini kan selalu sama
Yang kau rasa. Juga kurasa.

Meliuk
Dan selalu meliuk.
Begitulah yang kutahu.
Sampai nanti saatnya berlabuh.

Kita adalah kumpualan yang isoteris
Yang pada tataran isi
Mencoba selalu bereskalasi

Jadi meski lewat duri yang satu
Pasti akan ada dua duri baru.
Karena kita mampu
Walau dunia selalu begitu.

Tegarlah !


Bangun engkau setelah sekian malam berjelaga
Pagi berulang bimbang hati tak karuan
Sembab mata pedih masih sisa air sedih

Deretan pendapat teman, petuah dan kisah orang
Tak jua usir senyap pengap engkau rasa
Justru benak terpojok situasi serba salah

Bingung dilema kehendak mesti bagaimana
Lelah pasrah beban berat semakin
Tapi juga hati bicara engkau sebenarnya butuh
Meski sakit terkoyak jiwa berkeping
Inilah benar adanya,inilah memang keadaanya

Yakinlah bahwa ini akan mendewasakan
Lepas perlahan, biar waktu yang menentukan
Jangan putus asa, tetaplah tegar…

Jepara, 13 Desember 2011

Langit pun juga galau


Galau Akut
Diluar , riuh hujan sedang menari – nari
Disini , dingin jemari bermain koin berlari – lari
Mengalih hati cemas sejak hangat mentari

Sesampai sekarang masih tunggu berita
Gelisah rasa halau tak jenak;
Tak nyenyak
Risauku membelah ;
Galau mengacau

Apa yang terjadi pada engkau ?
Padahal fajar tadi masih kudengar keluhmu
Kisahmu yang menghanyut aku sedalam

Mesti ku tanya pada siapa ?
Pada gelap awan ini kah? Dia bisu.
Pada gemuruhnya kah?
Atau entah….

Jepara 12 Desember 2011

Kolam iblis


kolam iblis

Gelap semalam ada yang tenggelam dalam kolam iblis
Karena dia kehilangan nasehat
Mungkin dia putus asa, atau ?
Dia ingin tahu bagaimana berenang dengan iblis dalam kolam
Bisa juga …

Dibalik suara lain dia juga mengungkap :
” Ingin kuretas rencana Tuhan “
Setelah itu, dia akan bangun dinding penghalang
Apa dia sedang mengigau ?
Bagaimana mungkin bisa meretas rencana Tuhan !

Tapi lirih sendu setelahnya dia ucap :
” Bolehkah aku pinta restumu ? “
Maka jika aku menjadi orang yang dia tanya, kan ku jawab :
” aku bingung dengan alur lalu lintas pikiranmu ?”
Bagaimana bisa ada restu jika dia sendiri belum bicara apa yang dia inginkan ?

Mungkin dia sedang galau
Hatinya sedikit tawar
Seperti air sumur tak berasa manis pun pahit
Pikiran dan perasaanya sedang diadu domba

Lalu Kutengok kembali Wajah kalem itu
Pintanya berharap ingin didampingi :
” Aku takut, tolong temani aku “

Cinta yang bagaimana ?


cinta yang bagaimana

CINTA yang bagaimana yang engkau inginkan aku untuk melakukan itu padamu …??

Apakah CINTA yang mengajarkan tentang kearifan dan kebaikan, sebagaimana ibunda terhadap buah hatinya yang selalu mengajarkan kebajikan..

Apakah CINTA yang selalu teriring langkah keihlasan dan ketulusan, mencintai sepenuh dan sesungguh hati..

Apakah CINTA yang yang sederhana, menerima keadaanmu apa adanya, mencintaimu dengan adanya diriku yang apa adanya..

Apakah CINTA yang penuh pengertian dan kesadaran, mengerti apa yang engkau mau tanpa engkau minta, memahami engkau tanpa engkau tuntut aku untuk memahamimu..

Apakah CINTA yang penuh kasih dan sayang, yang mendamaikan engkau saat gelisah menggejolak hatimu, yang memberimu rasa nyaman dan ketenangan..

Cinta yang bagaimana ?
Bisikan perlahan kepadaku sebelum malam nanti cintaku dibeli oleh mimpi.

 

Jepara, 04 sept 2011

Apa maumu ?


marahKau kira telah tawar hatiku ?
Kau sangka bahwa pudar hatiku ?
Juga kau menerka jika hilang sudah rasaku ?

Ah, harusnya bisa terbaca maksud
Agar mengerti kehendak ingin kubangun istana untukmu
Tapi, salah kau artikan sikap
Ahirnya putus harap

Dan terserah !
Itu yang akhirnya sering sengaja terucap
Celetukmu berulang kesal,
Cetusmu kecut menuntut Tuhan
Bahkan kau salahkan !

Jika cita kau tabur untuk bunga kau damba
Mengapa justru mematah ranting sebelum sempat tercium wewanginya

Lantas apa yang sungguh kau mau ?
Jika sudah seperti ini …

Jepara, 02 Februari 2012